Wednesday, December 1, 2021

Before a difficult conversation

Part 2/4

So I am now in the second section of the course by Marlene Chism. Key takeaway from this part:

  • Never initiate a conversation when you are overly emotional. Wait until you have some time to think about your desired end result.
  • Talk face-to-face or at least by phone call.
  • Seek understanding. Hear the other person's point of view before you make them the enemy.
  • Stay focused. Keep your end result in mind. Resist temptation to argue about the past and non-relevant issues.
  • Ask yourself this three questions:
    • What is my narrative about the other person? Master your narrative. If we aren't aware of the stories we tell ourselves, we start to believe everything we think.
    • What questions can I ask to break my bias and start a dialogue? Cultivate curiosity.
    • Have I initiated a conversation with the source of the problem? Go straight to the source (and avoid gossip 😛).
To share you the news, I am adding another book to my when-will-I-read-these list thanks to black friday sale.
LOL.



Read More

Wednesday, November 24, 2021

What makes a conversation difficult?

Part 1/4

A conversation that seems uncomfortable to one person may seem straightforward to another. There are many variables that come into play.

1. The situation

Something is happening that you don't want to happen or something is not happening that you do want to happen.

2. The relationship

Define the relationship. How much do you care and what's the risk? When our conflict is with someone we care about, it can be really difficult. We worry about damaging the relationship.

3. The power structure

Is it a superior like a boss, a parent, a mentor, equal like a colleague or a peer, or your employee or mentee?

4. The emotions and the feelings

What emotions might surface for the other person or for you?


Saya belajar topik ini lewat LinkedIn Learning dengan harapan jadi people manager yang lebih baik di kantor. Sepuluh menit video berjalan, eh lho kok saya menangis haha. Cara Marlene Chism cerita bikin saya merinding. Kekurangan saya yang selalu muncul setiap berhadapan dengan konflik dan situasi asing lainnya adalah lambatnya saya menangkap social cues. Dari cerita Marlene saya langsung merasa sayalah yang suka ga ngeh apa-apa saja yang sebabkan situasi terasa lebih sulit dibandingkan situasi lainnya. Bahkan pihak yang berada di satu konflik yang sama bisa merasakan tekanan berbeda, bergantung pada empat aspek di atas tadi. Saya sadar skill ini nggak cuma penting untuk di kerjaan tapi juga untuk kehidupan pribadi saya.

All in all, saya mengerti betul bahwa insting atau common sense ga jalan bukanlah alasan untuk tidak paham karena komunikasi bisa dipelajari dan dilatih berulang kali. Di lain sisi, keluar dari pola komunikasi kita yang lama juga bukan hal yang mudah. Cara saya untuk membantu lawan bicara yang mungkin juga mengalami kendala seperti saya adalah dengan overcommunicate. Ayo belajar terus dan saling bantu. Semangat :)

What makes a conversation difficult? from Having Difficult Conversations by Marlene Chism

Read More

Monday, August 30, 2021

Biasa Saja

Suggestion Spotify di release radar itu lagu aneh-aneh. Iya sih saya suka Halsey, tapi dulu zaman New Americana. Iya saya suka Aurora, tapi nggak ingin dengar remixnya. Akhirnya daripada dengar release radar atau Discover Weekly yang isinya gak jelas, saya pilih dengarkan album yang itu-itu saja.

Kemarin City J dari Elephant Kind. Di awal album dia sampaikan, it's not necessary to beat the ordinary. Biasa wae ngono lho.

Hidup biasa saja ala saya itu seperti hari ini. Bangun tidur kalau sudah siap bangun alias jam 8 pagi pas banget jam masuk kantor hahaha. Langsung duduk di work space, kerja fokus important task, yang gak penting ya tunggu urgent. Gak musti perfecto. Makan pagi, siang, dan sore secukupnya. Kalau lagi pengen makan empat kali ya gapapa. Tadi bikin indomie goreng sebagai snack haha. Mandi sekali sehari di jam istirahat siang atau sepengennya. Jam 6 sudah pulang. Belajar sebentar 15 menitan. Ngobrol pendek sama teman-teman dekat memastikan mereka baik-baik aja dan memberi kabar bahwa saya juga baik-baik saja. Menolak diajak olahraga karena sedang tidak ingin. Dengerin lagu, scroll twitter, rebahan di sofa. Jam 9:30 sudah siap tidur pindah rebahan di kasur.


Kerjakan yang esensial buat support hidup dulu yaitu tidur, makan, dan bersosialisasi. Kerjakan ibadah wajib dan sunnah yang mudah dulu. Leyeh-leyeh di sisa waktunya. Pelan pelan aja. Hidup nggak mesti yang gimana-gimana banget kok.

Read More

Sunday, November 22, 2020

Check Point

Sudah enam bulan sejak tulisan saya tentang closure. Ada beberapa hal yang saya kagumi tentang perubahan pada diri saya. Mungkin sebenarnya kecil sekali dibandingkan perjalanan yang perlu saya tempuh. Namun, saya yakin hal ini jadi salah satu katalis proses-proses selanjutnya. Segalanya terasa lebih ringan.


Peace be upon us.

Read More

Thursday, October 22, 2020

Kelewat

Halo halo,

Mohon maaf ya tanggal 22 kemarin saya lupa tulis update. Jadi post ini tanggal publish-nya di-back date biar tetep cakep hahahaha.

Saya mulai kerja di tempat baru tanggal 15, jadi tanggal 22 itu tepat seminggu saya resmi bukan pengangguran. Terus kuliah juga sudah mulai ngerjain peer tiap minggu. Volunteer jadi panitia acara lari mulai ga kepegang. Ngasisten apalagi. Lari masih, tapi dikurangi karena cedera lutut. Challenge baca 12 buku di tahun 2020 gatau kaya apa kelanjutannya.

Banyak concern ya? Haha.

Awalnya adrenaline rush gitu tiap punya target baru. Semangaaat banget pengen ngejar. Hal yang berkali-kali saya alami dan masih belum ngerti cara menanganinya adalah cara nentuin pace. Kebiasaan ngebut di awal terus cape gitu lho.

Kalau dianalogikan ke lari nih. Dulu zaman lari dipaksa banget (apalagi yang di Malang napas sesak kaya apaan) kerasa bahwa kalo udah sampe ke titik "maksimal" tuh sulit buat recover. Misal nih normalnya HR lari aerobik 155, ini bisa sampe 178 gara-gara ngejar bocah-bocah ajaib itu ga kira-kira, abis itu mau jogging selelet apa juga tetep aja paling banter HR turun ke 165an.

Nah.

Kalo ini dicocoklogi ke burn out kerjaan, ya begitu juga. Sekalinya udah cape, fed up, ya udah ga bisa jadi normal lagi performancenya. Padahal kan kalo diatur biar "secukupnya" aja effortnya tuh mungkin bisa ya. Diatur sedemikian rupa agar masuk ke level engage, tapi ga sampe yang lieur lieur sorangan.

Pindah ke topik yang awal. Sekarang ini saya udah masuk level lieur lieur sorangan kebanyakan yang dipegang haha. Kurang dapat menentukan kapasitas diri nampaknya.

Btw di kehidupan personal pun gitu ga sih. Kaya kalo suka sama orang tuh takut kelewatan terus nanti lama-lama enek? Hahaha engga ya? Ini ketakutan saya seminggu ini. Lah curhat dia.

Apa siah post aku teh ga ada gunanya, post-nya Silmi mah cakep pilihan katanya wkwk.

Read More