Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Wednesday, December 1, 2021

Before a difficult conversation

Part 2/4

So I am now in the second section of the course by Marlene Chism. Key takeaway from this part:

  • Never initiate a conversation when you are overly emotional. Wait until you have some time to think about your desired end result.
  • Talk face-to-face or at least by phone call.
  • Seek understanding. Hear the other person's point of view before you make them the enemy.
  • Stay focused. Keep your end result in mind. Resist temptation to argue about the past and non-relevant issues.
  • Ask yourself this three questions:
    • What is my narrative about the other person? Master your narrative. If we aren't aware of the stories we tell ourselves, we start to believe everything we think.
    • What questions can I ask to break my bias and start a dialogue? Cultivate curiosity.
    • Have I initiated a conversation with the source of the problem? Go straight to the source (and avoid gossip 😛).
To share you the news, I am adding another book to my when-will-I-read-these list thanks to black friday sale.
LOL.



Read More

Thursday, August 18, 2016

16/8 Ke Kampus Lagi Setelah Sekian Lama

Topik Pagi


Pagi-pagi saya dipertemukan dengan tulisan di atas. Ada-ada saja. Baru sekitar 3 minggu yang lalu saya ngobrol tentang people who have been blablabla itu dengan Astari. Bukan people sih, saya. Haha. Lalu sekarang ada lagi yang membicarakan hal yang sama. Lucu juga.

Online Interview

Hari ini jadwal saya interview dengan sebuah BUMN. Setelah dilalui, ternyata tempur tanpa persiapan itu punya dua sisi menarik. Sisi pertama adalah kemungkinan gagal besar, karena sudah jelas tidak siap. Sisi kedua adalah hilangnya rasa deg-degan karena sudah tidak berharap. HAHA. Tapi seru sih, jadi semacam acara lawak gitu, timpal menimpal kalimat, terus salah satu pihak pasti ketawa. Apalagi tingkat spontanitas tinggi, makin fun. Ini bukan sarkasme, memang ini adalah interview paling menyenangkan yang pernah saya alami. Penuh suka dan tawa.

Hadiah Wisuda

Setelah makan siang, saya janjian dengan seorang dermawan karena hadiah wisuda darinya yang rencananya sudah di tangan saya dua minggu yang lalu ternyata hilang. Karena kedermawanan sang dermawan, ia membelikan lagi hadiah buat saya. Ini bagian yang saya nggak ngerti alasannya, tapi ya saya sih senang saja haha. Terima kasih banyak!

Pak Asa, Tata Usaha Prodi

Agenda selanjutnya adalah bertemu Pak Asa untuk menagih janji foto bersama. Kebetulan saya bertemu Bunga, sekalianlah foto bareng bertiga.

ada cameo di belakang haha
Setelah foto, kami rumpi-rumpi dulu sebentar. Biasalah Pak Asa ini memang biangnya cerita-cerita update HME. Lalu tiba-tiba beliau berkata,
"Makan yuk. Masa kita ketemunya di sini-sini aja."

Sebuah keajaiban ini haha. Saya dan Bunga sontak merespons ngeles,
"Nanti Pak kalo udah gajian ayo."

"Kelamaan, hari ini aja ayo habis saya pulang, jam 5an gitu"
Jengjeng hahaha.

Sepakat kami janjian setelah maghrib. Saya ikut Bunga ke residensinya karena bingung jam 3 sampai maghrib mesti ngapain buat menunggu. Bertemu Zarah yang juga interview hari ini, kami sama-sama menceritakan lucu-sekaligus-sedihnya interview yang telah terjadi. Saya nggak sendiri hahaha.

Lalu ketika nggak tahu lagi mau ngomong apa, saya kabur ke kosan Lovila. Saya memang sudah janji mau main sih. Sudah lama ga ngobrol-ngobrol.

Kosan Lovila

Isinya obrolan kami nggak jauh-jauh dari topik pengangguran pada umumnya: bagaimana mengisi waktu kosong ini. Status kerja teman-teman yang jarang saya temui saya tanyakan ke Lovila, penasaran sebanyak apa sih populasi taken di angkatan saya dalam waktu 2 minggu setelah kelulusan ini. Selain itu tentu saja ada obrolan soal konten blog haha.

Kue Balok Kanayakan

Lokasinya dekat sekali dengan PHD Dago, di pelatarannya gitu. Kue baloknya enak. Cincau hijau lemon juga enak. Mie rebus pake telor juga enak. Mungkin karena gratis hahaha. Nggak deng, memang enak. Cincau lemon itu sih mesti coba, seger mantap.

Saya tiba duluan sedangkan Bunga datang bersamaan dengan Pak Asa. Boncengan hihiw. Biar ga mati gaya, sambil menunggu mereka tiba, saya pura-pura baca menu. Banyak ya ternyata menu makanan dan minuman yang ditawarkan. Setelah tim lengkap, barulah dipesan kue balok dan cincau. Obrolan selama makan-makan gaul ini macam-macam. Kelakuan mahasiswa penuh prasangka saat reformasi, staf tata usaha di ITB, gosip-gosip couple di jurusan EL, EP, dan ET, dukungan Pak Asa jadi kaprodi EP, serta masih banyak lagi. Seru!

Saya pamit pulang sekitar jam 9 malam dengan dalih ingin pipis haha. Ada yang bikin deg-degan soalnya. Dua kalimat di atas ada hubungannya tapi nggak ada hubungannya.

Panjang ya. Sekian.
Read More

15/8 Jakarta Lagi

Hari ini saya sudah meninggalkan rumah pukul 3.15 dini hari. Hebat ya hahaha. Mengejar XTrans yang jam 3.45 soalnya. Kesekian kalinya duduk di dekat jendela, lama-lama saya jadi menikmati rasanya nontonin pemandangan jalan tol dari jendela mobil travel. Asyiknya jadi penonton kehidupan orang-orang. Lampu-lampu mobil berseliweran rasanya indah, terang-gelap-terang-gelap bergantian menghipnotis. Kalau diliatin lama-lama bisa bikin ngantuk haha. Apa sih padahal niatnya romantis ala novel wkwk.

Akhirnya saya beneran tidur. Bingung juga mau ngapain, gabisa mainan hp karena mabuk darat haha. Saya baru terbangun ketika kendaraan sudah melewati Bekasi. Terus ketika sampai sekitar pancoran, ada telepon. Entah sayanya yang tingkat "gampang terharu"-nya kelewatan atau ini memang harusnya bikin terharu. Orangnya kayanya kesel saya kerjaannya terharu mulu, tapi da gimana sulit haha

Saya tiba di KC pukul 7 kurang sedikit. Masih dua jam menuju waktu janjian. Nongkrong dululah di sana sampai hampir pukul 8, nungguin jam kantor buka haha. Lalu order Go-Ride untuk pertama kalinya. Woow haha. Sekitar 2 km bayarnya cuma 4 ribu. Gila apa ini.

Tiba di kantor pukul 8.10an, blablabla, interview sekitar pukul 9, cabs dari kantor pukul 9.45. Saat nunggu abang Go-Ride depan Sampoerna, saya ketemu Kak Jordi sang idola haha. Ternyata Kak Jordi kantornya di gedung Sampoerna itu. Aneh juga jam segitu baru mau masuk kantor, ternyata dia telat.

Sampai XTrans KC pas banget ada mobil yg menuju Bandung sudah siap berangkat. Ikutlah saya dengan mobil itu. Hore menempuh perjalanan 6 jam padahal urusannya 45 menit. Hore 200 ribu. Hahah.

Saya sudah tiba di Bandung pukul 1 siang, padahal harus menunggu sampai pukul 4. Akhirnya setelah makan di D'Cost sendirian dan mati gaya, saya nongkrong di musola BIP sampe pukul 3, lalu di Gramedia sampai pukul 4. Masih berharap ada si buku target, tapi harapan ini berulang kali pupus

Udah abis itu sampai rumah dengan selamat. Tamat
Read More

14/8 Pengangguran

Di hari Minggu yang cerah ini saya di depan laptop seharian. Paling nyuci dan jemur baju lah yang lumayan bergerak. Kelamaan begini kayanya badan saya jadi kaku haha.

Sudah lama ngga kena wifi, niat utama belajar excel agar menjadi kandidat pegawai yang cemerlang dengan mudah dikalahkan oleh video-video di Youtube. Ckckck mana pengendalian dirinya nih. Setelah berhasil minta bahan kuliah ke anak TI dan MRI, barulah saya serius baca itu buku supply chain sambil intip-intip video di channel ExcelsFun di Youtube. Iya saya kaum penyeberang yang haus akan ilmu pengetahuan wkwkkwkw.
Read More

Thursday, May 5, 2016

(Masih Belum Tamat) Baca Divergent

Saya tahu Tris tidak takut ketinggian karena saya sudah nonton film Divergent. Namun, saya jadi ragu. Kok kaki Tris gemetar saat memanjat bianglala? Kok dia jadi pusing? Ternyata paragraf selanjutnya berisi
"Lalu, kusadari itu. Itu karena ia. Sesuatu dari dirinya membuatku hampir jatuh. Atau mencair. Atau, meledak jadi kobaran api."

Kan kesel heu

Read More

Friday, April 22, 2016

Tak Pikir Panjang (2)

21 April 2016

Siang

Saya ditagih video ucapan selamat ulang tahun (semoga orangnya nggak baca). Rekamnya one take doang gaul hahaha. Saya rekam menggunakan webcam laptop. Ngomongnya pake hati banget itu. Jago saya kalo disuruh sesuatu yang gausah mikir. Semoga yang dengar suka.

Lalu tiba-tiba aja punya ide buat beli kado. Langsung saya chat di grup Doa Ibu, izin datang siang mau cari kado. Dijawab oke. Berangkatlah saya. Sampai di Gramedia, impulse buying keluar. Tiba-tiba udah pegang dua tas haha. Beli tas tangan gitu lucu motifnya. Saya putuskan kedua tas akan saya tawarkan ke yang ulang tahun. Nanti yang tak terpilih akan jadi milik saya hahah. Padahal saya berniat beli hadiah berupa pashmina loh pas berangkat dari kosan ckck.

#nowlistening Matahari Pagi - Banda Neira

Ke bagian Bargain Book, lihat Mein Kampf. Obsesi saya sama perang dunia zaman dulu SMP seperti bangkit lagi. Tapi mahal haha. Gajadi. Minjem aja kalo ada yang punya. Siapa ya, Ofek punya kali ya. Jalan lagi lanjut ke Lantai 2, buku import. Ada buku itu ahahah. Ya itu lah pokoknya. 112 ribu rupiah. Beli nggak yaa. Saya sudah baca versi terjemahannya dan suka banget. Tapi kalo beli yang ini kok ya nggak tega sama dompet. Saya diam di depan si buku sampai 10 menit. Yang membuat saya memutuskan pergi adalah kaki yang mulai lelah. Saya tiba-tiba punya ide yang agak hm, nanti aja deh tapi eksekusinya dipikirkan lagi saat tiba saatnya.

img source: djualanboekoe.wordpress.com


Di akhir perjalanan saya di Gramedia, saya ingin berterima kasih pada Pemerintah Kota Bandung dan jajarannya. Akhirnya saya nggak lagi ditolak sama mbak kasir Gramedia ketika meminta, "Mbak, boleh nggak pake kantong plastik ga?" Makasih Pak, Bu, penolakan itu pahit wkwk.

Oya, saya juga mau terima kasih karena Jalan Merdeka kini ada pembatas jalur berupa pagar iklan layanan masyarakat. Saya jadi tidak perlu ngeles dan mengelak ketika diajak nyebrang nggak di zebra cross atau jembatan penyeberangan. Saya bisa jalan ke jembatan penyeberangan dengan tenang tanpa mengemukakan alasan-alasan ala buku kewarganegaraan. Makasih Pak, Bu, sesungguhnya terpaksa menyeberang di jalan selebar itu karena dipaksa teman yang mager jalan ke jembatan penyeberangan itu agak mengerikan. Mengerikan deng, nggak pake agak.

Ke kampus, saya mampir Teknik Kimia mau ngasihin barang yang saya beli tadi. Tapi gagal karena orangnya nggak angkat telepon. Saya nunggu di goa belakang sampai the birthday girl jawab chat. Lalu kembali ke labtek biru Teknik Kimia setelah ada jawaban dan lokasi ketemu. Berhasil huyeay. Ga mungkin gagal sih, emang ga ada surprise da saya mah to the point. Haha gapapa ya, Fi? Selamat ulang tahun Fiananda! Kelihatan terkejut kok tadi semoga bukan akting ya hahah.

Malam

Ada ajakan jalan dari Fiananda the birthday girl. Nggak mikir, iyain aja. Baru deh habis itu izin ke kelompok TA. Kebetulan pada ingin pulang juga jadi ya mantap. Makan Gokana dan karaoke ahahahah. Ngeluarin uang gapake mikir kok gampang ya?

Suara saya dibilang se-warna sama Andien oleh Kunfachri. Bangga sekaligus terharu sih uhuhu. Biasanya yang bilang warna saya enak cuma Fiananda haha.

Sekian.
Read More

Friday, April 1, 2016

Sebentar eps. 7

Seberkas cahaya matahari pucat menembus kumpulan awan seperti bulatan ujung rokok yang terbakar. Aku tidak akan pernah merokok--merokok erat sekali dengan kesan kesombongan--tapi sekumpulan orang Candor merokok di depan gedung saat kami turun dari bus.

-Divergent, halaman 50

pertanyaan: kenapa merokok erat dengan kesan sombong?
Read More

Monday, February 22, 2016

Smart Talk eps 1: Introduce Yourself

Notice: This post is under label "mimpi" because it relates so much with my personal mission statement aka goals of life.

#nowlistening Frau - Arah

I am currently taking a business communication class and reading Smart Talk by Lisa B. Marshall.

It feels good.

First, I have to tell you that I am proud of my people skills. I even write it on the About Me part in this blog (you can see it in the right column, sorry for being narcissistic :)) ). Then I met this class and this book. Someone knocked at my door. Said that I am no good in professional communication.

Okay lets move on. Take the pride back.

#1 Taking the "Hell" Out of Hello

How many times did you have to introduce yourself last month? Not a chance? Once? A dozen of times? For me it's like seven to ten within two weeks. I am currently applying for this and that, so that would add a couple of "Hi, I'm Yusrina blablabla", both via email and in-person.

I'll write you the five steps to effective introductions from the book:
1. Make it relevant to your audience.
When I introduced myself in the placement test interview, I didn't say "Hi, I'm Yusrina. I love running and swimming." That was irrelevant to the interviewer because what she was interested about was not my hobby. Obviously. So here is what I should have had said: "Hi, I'm Yusrina. I am taking this class because I am preparing for an interview next month".

2. Shake hands, well you know it

3. Say the other person's name while shaking, you know this too

4. Build rapport by finding common ground
The initial connection hopefully lead to conversation. The powerful question that I used a lot in speed networking role play in the class last week was "Well, I'll hear from you first. So, what do you do?". That way, I could adjust my response to describe what I do, made it more relevant and interesting for the other person. And this book says the same thing. Wow.

The direction of the conversation can be decided from here, the common ground. "Oh, you're a travel agent? I love travelling". My role was an event organizer that loves extreme sport and travelling, so I brought up the travelling thing. Forgot to mention, that was my line from last week. Yes, I used echo question a lot. It shows interest. Don't you think so?

5. Communicate confident, yes of course

The steps ends here.

Talking about small talk, I want to quote the book:

"My coach said to me, 'Lisa, you don't ask someone to marry you on the first date! You need to warm-up first.' That made sense! Before I can ask someone important questions, I first needed the person to respond favorably to me, to like me, and perhaps most important, to trust me. It was like a huge lightbulb went off in my head -introductions, small talk, and initial conversations are just a first step toward genuine communication."

There. I want to talk about the underlined words later. Please remind me.

#nowlistening Tulus - Lagu Untuk Matahari
Cheer up hey you, Sunshine!

Btw saya mulai lari lagi plus sekarang dengerin Tulus jadi ingat post ini. Satu Hari di Bulan Januari. Ahiw

See you next episode
Read More

Saturday, January 30, 2016

Saturday, January 16, 2016

Liburan: Hari 25

Sherlock The Abominable Bride

Kembali menonton serial ini membuat saya kembali sadar seberapa suka saya sama senyumnya bapak Cumberbatch. Nonton begini jadinya fangirling hahahah. Well, liat Watson juga suka banget sih. Cuma kumisnya aja ngeselin. Ga kebayang kalo Poirot jadi orang, bakal se-ngeselin apa kumisnya.

Undangan Lagi

Sebenarnya bukan saya sih yang diundang. Pak Prapto, ketua ikawangi, anak lelakinya menikah. Papa dan Mama yang masuk ikawangi diundang untuk hadir. Terus saya familiar dengan nama mempelai wanitanya, persis nama guru biola saya di Braga Music School. Jadinya saya diajak ikut hehe. Terus ternyata beneran guru biola saya yang nikah haha. Dunia ini sempit memang. Yang saya katakan sebelum memberi selamat adalah "Kak, ingat saya nggak?" Haha


Menghitung Hari

Lusa udah mulai kuliah. Lusa deadline LPJ. Lusa ada rapat ring 1 pengurus him. Lusa kehidupan yang biasa akan kembali dimulai. Can't wait.

Saya baca Mrs.McGinty is Dead - Agatha Christie buat penutup liburan. Sama besok mau ke Kawah Putih bareng geng PSM. Pasti super seru.

Dah
Read More

Monday, January 4, 2016

Liburan: Hari 13

Banyak yang ingin saya tulis tapi kebanyakan tulisan perlu persiapan mental dan koneksi cukup. Jadi yang ini dulu aja ya hehe

Deezer
Lagi-lagi Deezer mobile ada tampilan baru. Jadi lama loadnya hm. Mungkin karena masih load pertama kali ya. Akhirnya saya memilih Youtube buat jadi teman mengusir kosongnya kosan. Meski tetep kosong sih. Yaiyalah.

Ayam
Cari sarapan putar-putar karena warung nasi pecel yang jadi target belum buka. Saya jadi lewat rumah yang pelihara banyak ayam. Salah satunya ayam kate berwarna coklat. Pas saya lewat, ada seorang anak laki-laki yang duduk di kursi teras sambil memeluk ayam kate tersebut. Kemudian terjadi percakapan
"Aku masuk dulu ya. Dadah ayam kate"
Ayam katenya dibelai kemudian dilepas di kursi.

Aduh dek kamu lucu banget sih. Ayamnya juga lucu. Kalian lucu banget sih.
Udah haha.

Jam Tangan
Hari ini saya janjian dengan Papa. Mau beli jam di Jalan ABC hore haha.

Kami ketemuan jam 10.30, setelah saya drop bed cover di Bubble Laundry dekat kosan dan Papa beres urusan di kampus. Setelah ketemu di gerbang Annex Jalan Sulanjana, kami langsung menuju Jalan ABC, toko Bintang Mas. Sebenarnya setiap beli jam pasti ke toko ini atau toko seberangnya sih. Meski displaynya lebih bagus, toko seberang lebih mahal. Jadi ya beli di sini. Gatau deng mungkin tergantung barangnya ya. Kalo tali jam lebih mahal sih.

taraa

milih sendiri, bayar sendiri, senyum-senyum sendiri

Akhirnya punya jam, setelah ga pake jam karena hilang --> pake jam pinjeman dari Mama --> ga pake jam karena diminta balik. Hahahha. Berapa bulan tuh, kayanya sejak Juni.

Kampus dan Kuliah
Beres beli jam saya menuju kampus. Janjian makan siang dengan Astari sambil nunggu rapat ekskursi pukul 13. Janjian juga sama Dwiky dan Andaswara mau ke Tata Usaha Sekolah Bisnis Manajemen untuk ambil kuliah Manajemen Proyek. Ehtapi ternyata matkul tersebut ga buka semester ini haha. Jadi mesti kajian dulu deh mending ambil mata kuliah manajemen yang mana.

Rapat ekskursi berlangsung cepat dan kondusif. Saya kangen sama suara dan kelakuan anak-anak HME btw haha. Terbayar lumayan. Oya sekotak bakpia habis dalam sekejap. Saya senang muka Dian terlihat senang pas makan haha. Saya berniat bawa lagi besok, karena memang tadi niatnya bawain buat penghuni goa. Sayang si goa sedang kosong melompong.

Nebeng
Saya pulang ke rumah nebeng Arsyi haha. Tapi cuma setengah jalan sih, sampai daerah Jalan Pesantren aja. Ya lumayan menghemat enam ribu rupiah. Katanya dia ngebut, ternyata engga juga. Atau mungkin karena bawa penumpang. Entah.

Saya dibawa lewat jalan-jalan yang nggak pernah saya lewati sebelumnya. Saya mah mager lewat jalan tikus-tikus gitu, repot kalau papasan sama motor lain, banyak polisi tidur pula. Kayanya ga begitu ngaruh juga beda berapa menit. Mungkin ngaruhnya kalau Jalan Gunung Batu sedang macet parah ya. Tapi seru jalannya, bisa lihat jalan tol dari luar pagarnya haha. Terima kasih Arsyi.

Sampai rumah ya gitu deh. Leyeh-leyeh, curhat-curhat. Padahal tujuan utamanya nyiapin baju yang ditinggal di Banyuwangi kemarin buat diboyong ke kosan. Besok aja deh haha.

Sekian
Read More

Friday, September 4, 2015

Monday, August 31, 2015

Gejolak dalam Hati

Catatan harian selayaknya berisi keseharian yang biasa-biasa saja. Sepertinya saya sudah meninggalkan makna catatan harian sejak beberapa hari lalu dengan terlalu memikirkan apa yang sebaiknya saya tulis. Untuk memenuhi permintaan pembaca setia yang tadi nanyain blog saya, hari ini saya mau cerita soal kejadian hari ini.

Pagi ini saya mandi lebih pagi dari biasanya karena mesti ke kampus untuk pelatihan asisten praktikum tapi juga mesti keramas plus nunggu rambut kering tanpa pake hairdryer. Kalimat apa barusan ya terlalu banyak informasi haha. Saya, Daryl, dan Pratama janjian ke Laboratorium Dasar Teknik Elektro (Labdas) pukul 9 pagi. Namun karena kemageran akut dan gejolak dalam hati yang mengatakan besok saja mulai pelatihannya, saya baru tiba di kampus pukul 9.45. Gejolak dalam Hati I.

Bimbang lebih baik ke labdas hari ini atau besok, akhirnya saya mengurungkan niat karena mengetahui Pratama dan Daryl udah naik duluan (labdas ada di lantai 3). Maka saya menghabiskan 1 jam waktu saya untuk diam di HME, ngobrol sama beberapa orang, ketawa-ketawa ga jelas (seperti biasa), main pingpong bersama Nadhifa, makan cronut yang dibeli kemarin tapi ga dimakan karena ga boleh dibawa masuk ke Focal Point, baca materi kuliah, dan lain-lain. Oya saya ngasih lolipop ke Ali sebagai balasan yang tanggal 16 Agustus kemarin. Terima kasih Ali.

Kelas Pengolahan Citra Digital dimulai pukul 11. Seperti yang pernah saya ceritakan, kelas ini seru dan menginspirasi. Kali ini Ibu Tati LR Mengko (dosen kelas PCD) mengundang Bapak Richard Mengko untuk "mengganggu" kami selama 10 menit. Dimulai dengan menunjukkan futuretimeline.net, Pak Richard sukses mendapatkan seluruh perhatian kami. Dua hal menarik yang beliau tekankan yaitu
Hati-hati dengan cara (kalian) berpikir ke depan, dunia nanti bukan lagi dunia sekarang.
Hati-hati (dengan masa kuliah yang) 4 tahun ini. Kalau tidak berhati-hati, kesusahan Indonesia akan semakin panjang.
Kemudian di akhir kelas, hati dan pikiran saya kembali bergejolak. Mau saya balas dengan cara bagaimana rakyat yang sudah membiayai saya kuliah sekarang. Apalagi kalau nanti S2 dibantu LPDP, berat sekali tanggung jawab di pundak ini. Gejolak dalam Hati II.

Saya makan siang bersama Daryl, Pratama, dan Bianca. Pas makan siang ini kami bahas rencana nonton nanti malam. Hati saya bimbang menentukan pilihan: (a) tetap di kampus untuk rapat dilanjutkan audiensi, (b) rapat kemudian bolos audiensi dan nontonnya telat, atau (c) bolos keduanya biar bisa on time di bioskop. Pilihan sulit. Gejolak dalam Hati III.

Selesai makan siang, saya dan Pratama ke labdas untuk pelatihan asisten Sistem Digital. Saya baru sampai percobaan 1B namun harus udahan karena ada kelas Kebijakan Iklim. Yaudah saya kelas. Ternyata saya melewatkan satu deadline tugas karena saat pertemuan pertama ga kedengeran kalo ada tugas. Timbul niatan untuk drop kelas ini. Gejolak dalam Hati IV. Tapi udah tidak bergejolak karena saya memutuskan untuk lanjut, kelas ini seru jadi sayang untuk dilewatkan. Semoga kak Nyoman juga seyakin saya.

Kelas Kebijakan Iklim selesai pukul 16.30. Tiba saat untuk menentukan langkah menyikapi Gejolak dalam Hati III. Akhirnya saya putuskan opsi b sebagai pilihan paling memungkinkan. Di masa penentuan ini, saya didampingi orang kasmaran yang sepertinya lagi doyan curhat, dan video ini


serta video spektakuler ini


Kasmaran sebenarnya kata yang saat ini digunakan Pratama untuk menggambarkan keadaan seorang teman dekat kami yang kemudian saya gunakan untuk teman dekat kami yang lain. Oya Rizky bikin Stick Bomb juga tapi pendek jadi cuma sebentar. Tapi keren sih.

Rapat yang saya hadiri selesai pukul 19.05 sedangkan film Paper Towns mulai pukul 19.15. Jadi naik motor ugal-ugalan ya begitulah. Filmnya mungkin akan saya review di post lain, mungkin juga tidak. Selesai nonton, saya, Astari, Arsita, Bianca, Pratama, dan Aghnia makan di Bakmi GM. Ini kali pertama saya makan di sini. Mungkin akan saya review di post lain, mungkin juga tidak haha. Arsita menceritakan isi novel Paper Towns dan saya jadi ingin baca. Padahal The Fault in Our Stars yang ada di rumah belum saya sentuh. Tahun ini sepertinya saya agak kurang membaca buku.

Zorro saya tinggal di depan Perahu, tentu saja titip ke bapak parkir. Saya keluar Cihampelas Walk saat malam sudah larut. Pas saya tiba di Perahu, bapak penjaga parkir yang rumahnya di Astana Anyar tersebut terlihat terkantuk-kantuk menunggu saya. Maafkan saya ya Pak. Mengobrol dengan teman dekat membuat saya lupa kalau saya ditungguin sama Bapak.

Sekian cerita hari ini. Sampai jumpa kapan-kapan.
Read More

Friday, August 21, 2015

Bicara

"Hmm, ada banyak masalah yang kita alami dengan orang-orang terdekat kita, yang sebenarnya sederhana, karena disimpan lalu menjadi rumit, kemudian bertambah rumit karena terlalu dipikirkan dan semakin rumit karena terlalu dirasakan. Padahal untuk mengatasinya, yang perlu kita lakukan hanyalah bicara. Bicara apa adanya."



-dari Genap karya Nazrul Anwar, halaman 45
Read More

Wednesday, August 19, 2015

Perayaan di Kosan

Diminta bikin resume obrolan hari ini oleh kakak Dien. Nanti resumenya ditandatangani oleh beliau selaku asisten. Iya ini pura-puranya lagi asistensi. Haha ga lucu ya pasti. Langsung aja deh.




Kemarin Kakak Dien sidang. Pake blazer yang saya temenin nyarinya wuhuw. Sorenya saya dan Mbak Ita rencana bikin kejutan mau beliin cheesecake. Sayangnya saya mager dan ga enak badan. Batal deh beli cheese cakenya. Mbak Ita tetep bikin kejutan dengan membawa dua balon huruf M dan T bareng Mbak Wulan. Fotonya paling atas.

Hari ini saya ke HME dengan mood yang kurang baik. Jadilah siang datang sore sudah pulang. Di parkiran motor tiba-tiba terlintas ide untuk menjadikan ide yang tidak jadi menjadi jadi. Hayolo njelimet. Intinya saya pergi ke Cizz di Jalan Laswi 1A Bandung. Beli tiga kue (ki-ka): CheeseMelt, Raspberry Cheesecake, dan Caramel Cheesecake. Sayang sekali Tiramisu Cheesecake yang favorit udah habis. Harganya masing-masing 20an ribu rupiah jadi total habis 65 ribu rupiah.

Sampai di kosan saya ngajak foto sama cheesecake, sekalian karena belum punya foto perayaan MTnya kakak Dien. Setelah bosan makan cheesecake, kami ke Cihampelas Walk, jalan kaki dari kosan. Rencananya belanja ke Yogya. Di Cihampelas Walk saya bertemu dengan Alina, Sarah, dan Awang yang katanya sedang main.

Sampai di kosan, terjadi obrolan panjang lebar. Banyak hal. Awal mulanya karena saya menemukan buku berjudul Genap karya Nazrul Anwar di kamar Mbak Ita.
"Ya ampun tagnya 'Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita', takut ah bacanya", kata saya.
Kakak Dien menimpali, "Aku gamau baca nanti minta nikah besok."

Obrolan ini tentang bedanya cowok dan cewek dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal itu. Baru saja kemarin saya cerita ke seseorang soal kasta pertemanan yang saya punya dan dia heran banget mukanya. Kata Mbak Ita cuma cewek yang beda-bedain teman kaya gitu. Kami juga bahas soal cowok yang suka memendam perasaan dan jarang cerita tentang dirinya sendiri. Ya banyak deh. Saya ditunjukkan video persiapan melahirkannya teman Mbak Ita yang sukses bikin saya terharu. Terus bahas juga soal cewek spesial yang konotasinya negatif di rumah tangga. Tentang perjodohan orang tua Mbak Ita. Dan masih banyak lagi. Ya banyak lah pokoknya dan mesti banyak disensor kalau ditulis di sini haha.

Saya nulis ini sambil nungguin mau bangunin Kakak Dien biar nerusin revisi tesisnya. Sekarang Kakak Dien sudah bangun jadi saya mau tidur. Dah
Read More

Monday, July 20, 2015

Karakter Anak

Mengutip tulisan di newsletter SOS yang saya peroleh beberapa saat lalu,

ingatlah bahwa kita diberi kesempatan untuk membentuk karakter anak selama 12 tahun pertama kehidupannya (Periode Formatif). Manfaatkanlah secara maksimal masa pembentukan ini karena begitu anak mencapai usia 15 tahun, karakternya akan terbentuk dan sulit untuk bisa diintervensi lagi.
(Parenting Communication Specialist, Hana Yasmira, Msi)

Agak mengerikan ya pengaruh keluarga dan pendidikan dasar terhadap karakter orang. Kalau masa itu ga bener kayanya bisa aja terbentuk orang-orang yang ga bener macam di Agents of Shield (maaf belum move on). Jadi ingat saat Aris, Gunawan, dan saya saling bercerita soal masa kecil masing-masing dan menarik benang yang menghubungkan masa lalu itu dan karakter kami sekarang. Kami berusaha mencari keterkaitan cara orang tua mendidik kami dan bagaimana kami sekarang. Terus Aris bilang kurang lebih begini, "habis mikirin pengembangan karakter, pengembangan karakter anak mesti dipikirin juga nih."

Kemudian mengutip tulisan di blog Alina ,

yang paling fundamental dari pengembangan diri adalah membuat orang sadar akan kebutuhan untuk mengembangkan diri.

Dalam konteks pengembangan karakter anak, menjadi sulit untuk melakukan pengembangan diri anak karena anak belum punya 'kesadaran penuh' terhadap apa yang sedang/telah dilakukannya dan dampaknya terhadap lingkungan dan diri sendiri. Apalagi untuk berpikir sejauh 'kebutuhan mengembangkan diri'. Makanya menurut saya lingkungan si anak harus didesain sebaik mungkin untuk memancing pertumbuhan ke arah yang baik dan 'benar' oleh orang tuanya.

Sebenarnya saya ingin nulis tentang orang tua yang belum siap jadi orang tua karena episode tentang Donnie Gill di Agents of Shield. Saya berniat menulis semacam esai, tapi ga punya sumber. Mungkin perlu belajar dulu. Udah itu aja dulu yang bisa saya tulis. Tulisan ini dalam tahap belum dalam kalau kata Aris atau Fransiskus.
Read More

Wednesday, June 24, 2015

Buku Bagus


Karena Juris akhir-akhir ini post review buku melulu di blognya, saya jadi ingin ikutan.

Mari mulai.

Akhirnya saya menyentuh buku kelima tahun ini, setelah terakhir pada bulan Januari saya menamatkan Jendela-Jendela, Pintu, (sebagian) Atap, dan Angels & Demons. Berbeda jauh dengan tahun lalu, kali ini saya baru mencapai 1/10 'reading challenge' padahal sudah menghabiskan setengah tahun. Entah karena tahun ini lebih sibuk, atau tahun lalu yang kurang kerjaan haha.

The Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey telah menarik perhatian saya sejak sebulan lalu. Namun saat itu saya agak bimbang, lebih baik baca dia dulu atau Menuju Titik Nol atau Rich Dad, Poor Dad. Ini sebenarnya kebimbangan yang kurang penting karena ketiga buku tersebut bagus dan tidak akan timbul masalah mana yang dibaca duluan. Tapi ya begitulah. Akhirnya saya baru mulai baca akhir bulan ini, tepatnya kemarin, dan saya memilih 7 habits (maaf ya disingkat, judulnya kepanjangan).

Sensasi saat membaca buku karya Malcolm Galdwell berbeda dengan sensasi saat membaca buku ini. Waktu itu saya baca Outliers versi indonesia dan Tipping Point versi inggris. Saya merasa tercerdaskan dan diubah cara pandangnya dengan mengalami "ooh" experience setiap membuka halaman selanjutnya. Saat membaca 7 habits versi inggris sekarang--saya baru sampai bagian inside out-- cara pandang saya juga diubah, saya juga dicerdaskan, tapi yang muncul adalah "wow" experience disertai sedikit gema dalam kepala.
dibeli hampir 17 tahun lalu

Apa bedanya?

Di Outliers saya diceritakan sebuah argumen dengan bukti-bukti penunjang yang membuat saya paham dan percaya dengan argumen tersebut. Rasanya seperti belajar hal baru di kuliah sosial sehingga yang timbul adalah "ooh" experience. Pengalaman yang dibawa oleh 7 habits berbeda. Selain pemilihan kata-kata yang jujur dan kadang lucu, diselipkan pula banyak dialog yang membuat pengalaman membaca buku ini terasa nyata. Rasanya seperti berdialog dengan seseorang tentang kisah hidupnya kemudian kita ambil pesannya. Karena sedang berdialog, saya benar-benar memiliki kesempatan untuk merespon kalimat yang ditulis. Biasanya yang terjadi adalah menahan nafas (wow experience), kemudian gema di kepala, kemudian termenung karena masih heran dengan perubahan paradigma (paradigm shifting) yang baru saja terjadi. Oke saya memang agak hiperbolik disini. Tapi memang ada freeze moment gitu tiap akhir subjudul. Itu yang saya alami sampai halaman 45 sih. Selanjutnya belum tahu bagaimana, akan saya ceritakan di post lainnya.

curhat:
Ini kali kedua saya ngeblog menggunakan tablet, lelah haha. Ingin upload foto tapi bingung caranya karena pop-up untuk attach ga muncul. Lain kali saja kalau ada laptop pinjaman. Meski sulit nulis begini, kalau tidak ditulis nanti otak saya macet, jadi apa boleh buat. Anw saya dalam proses menulis tentang Broadwell-nya Intel, tapi belum selesai juga meski dia duluan yang dibuat dibanding tulisan ini. Browsing menggunakan tablet bukan sesuatu yang menyenangkan jadi butuh waku lebih banyak. Sesegera mungkin dia akan menyusul. Selasa kemarin pinjam laptop Irham "Iridium" jadi sudah ada kemajuan.
Read More

Saturday, June 13, 2015

Buku Catatan Coklat

Saya punya buku catatan yang selalu saya bawa saat bepergian. Dulu buku itu saya buat sendiri dari kertas bekas-setengah-terpakai. Kemudian beralih ke buku kecil berwarna hijau. Karena buku hijau sudah penuh, setahun lalu saya ganti jadi buku berwarna coklat.

Lalu ada apa dengan buku catatan coklat tersebut sehingga dibuat satu post khusus?

Bulan ini buku coklat itu menjadi istimewa karena sudah setahun umurnya. Itu saja.

Isi buku catatan saya adalah isi kepala saya. Agenda harian dan to-do list yang berupa rutinitas sudah saya serahkan pada gadget sehingga telah di luar kepala. Isi buku catatan saya sekarang adalah kegelisahan #eaa. Buku hijau isinya mayoritas soal organisasi dan kepanitiaan, isinya mulai Januari-Mei 2014. Lebih ke hal teknis karena zaman itu kerjaan saya cuma motor, bukan pemikir. Sebenarnya sampai sekarang juga masih tidak suka berpikir sih. Tapi adanya paksaan membuat saya sedikit berubah.

Buku coklat dimulai saat kaderisasi jurusan untuk angkatan 2013 dimulai. Meski saya tetap bagian eksekutor, disini saya belajar cara berpikir. Mungkin hal ini disebabkan perbedaan model komunikasi yang saya gunakan. Pada masa buku hijau, komunikasi yang dilakukan lebih berupa komunikasi satu arah. Peran saya sebatas menerima perintah dan mencatat, kemudian meneruskan perintah kepada orang selanjutnya. Tidak ada proses mengolah informasi. Pada masa buku coklat, atasan saya melibatkan kami para bawahan untuk ikut membuat keputusan, sehingga kami ikut berpikir.

(awalnya ada gambar tapi dihapus haha)

Isi buku catatan saya yang sekarang coklat bukan lagi hal-hal teknis. Masih ada tapi tidak banyak. Beberapa soal training softskill seperti time management, personal branding, dan stage of team formation. Beberapa mengenai perbaikan sistem di organisasi. Beberapa berfungsi untuk melepas beban. 
13 Juli 2014 pertama kali saya curhat di buku catatan coklat setelah 45 halaman sebelumnya berisi organisasi dan kepanitiaan. Seluruh emosi yang tertuang masih bisa saya rasakan ketika saya membaca ulang tulisan itu. Abram sempat baca dan dia bingung saya nulis apa haha. Sepertinya tidak ada orang lain lagi yang baca.
16 Oktober 2014 pertama kali saya menyemangati diri sendiri, dengan menulis "Stay focused on your mission, Yusrina!" di buku catatan coklat. Sepertinya saat itu beban sedang berat. Saya ingat saya suka marah-marah sama orang tidak bersalah saking pusingnya.
Mei 2015 seseorang yang bukan teman dekat saya bilang "jadi diri sendiri aja. Kalau ada yang ingin dikatakan ya katakan saja". Saya bilang "aku takut menyakiti orang lagi" dan dijawab "yang penting jadi diri sendiri dan tidak bermaksud jahat". Kemudian ingatan saya soal bulan Juli 2014 kembali lagi. Kurang bisa move on ya hahah. Bagian ini saya tuliskan di buku coklat juga. Bersama beberapa tambahan curhat melankolis. Untuk merayakan ulangtahunnya yang pertama. Sekarang dia tinggal seperempat kosong. Semoga yang saya tuliskan bukan hal sedih lagi.

Omong-omong lebih mudah terbuka dengan orang yang tidak dikenal daripada sebaliknya. Terima kasih kepada beberapa "sesorang yang bukan teman dekat saya". Meski ada yang responnya cuma "oiya?", efeknya besar kok bagi saya. Terima kasih juga kepada buku catatan coklat saya, setahun kebelakang bisa saya review hanya dengan membaca semua yang tertulis.
Read More

Friday, January 23, 2015

Angels & Demons: Movie and Book Review

BUKU

Saya tahu ada buku berjudul Angels & Demons, dan pertama tahu ada penulis bernama Dan Brown, ketika saya kelas 7 SMP. Saya tertarik untuk membaca buku itu karena judulnya, tapi saat itu dia bukan buku prioritas saya. Beberapa tahun kemudian, saya beli The Da Vinci Code dan tersihir karenanya. Kemudian saat The Lost Symbol terbit, saya langsung beli. Ketika Inferno terbit, saya langsung baca, meski tidak beli sendiri. Sampai akhir tahun lalu, saya sudah lupa pada Angels & Demons.

FILM 

Akhir tahun lalu adalah kali kedua saya nonton film Angels & Demons. Sebelumnya saya kurang ngerti sama jalan cerita dan bagaimana endingnya. Saat nonton kedua kalinya inilah saya menikmati Angels & Demons.


Saya tidak memiliki ekspektasi apapun karena belum membaca bukunya. Semua yang terjadi dalam film adalah pengalaman pertama saya, dan saya menikmati setiap momen yang terjadi dalam film. Meski tempo ceritanya agak cepat dan arah ceritanya jelas kemana, film ini tetap enak untuk diikuti. Bagian action-nya seru. Berhubung Pak Langdon sudah berumur dan ga jago bela diri, akan agak aneh jadinya kalau beliau terlalu cekatan. Jadi menurut saya proporsi action dalam film ini sudah pas.

Rasa deg-degan yang timbul setiap nunggu jam eksekusi, mencari petunjuk untuk setiap altar, bikin saya ikut menyemangati Langdon meski tidak bisa membantu berpikir. Elemen suspensenya dapet sih. Nebak-nebak siapa yang berkhianat juga bikin bagian misterinya oke. Bagian akhir film lebih oke lagi. Sejak keadaan berbalik, mata jadi lebih jeli memperhatikan gerak-gerik setiap karakter biar tidak ada yang terlewat. Seru.

Kalau soal karakter, menurut saya Vittoria kurang berasa kehadirannya dalam film. Saya kurang mengerti, wanita seperti apa si Vittoria ini. Padahal dia lumayan sering muncul di layar, sayang sekali kurang jelas karakternya, jadi kaya ngikutin kemana Langdon pergi aja gitu. Karakter yang saya suka adalah Richter. Dia mencurigakan tapi juga terlihat perhatian haha. Bikin bingung dan bikin acara tebak-menebak makin seru. Camerlengo juga sama kaya Richter, tapi kalau yang ini bikin saya nggak suka. Entah bagian apa dari karakternya. Tapi kalau akting si artisnya bagus sih, pas gitu sama Camerlengo. Secara keseluruhan saya menikmati film ini.

BUKU

Setelah menonton film Angels & Demons untuk kedua kalinya, saya penasaran dengan bagaimana Dan Brown menceritakan petualangan Langdon ini. Miripkah film dengan bukunya?

Setelah membaca bagian awal buku, saya merasa kagum dengan bagian awal yang digunakan di film. Bagian awal film benar-benar seperti bagian pendahuluan, menyiapkan kita untuk masuk ke cerita inti yang kental hubungannya dengan gereja dan kepausan.

Selagi membaca buku, saya mengingat-ingat. Adakah karakter Kohler di film? Di buku, karakter Kohler begitu kuat dan berpengaruh besar pada keberjalanan cerita, dialah yang mengundang Langdon untuk menyelidiki kasus pembunuhan seorang ilmuwan CERN. Segala tindakannya di buku berpengaruh banyak pada alur berpikir saya dan mempengaruhi kecurigaan saya soal siapa yang berkhianat. Kalau ketidakmunculan Macri dan Glick saya dapat mengerti, memang tidak berpengaruh banyak.

Omong-omong ini jadi membandingkan buku dan film ya, bukan mereview buku haha.

Secara keseluruhan, saya menikmati buku ini. Berhubung saya bukan Katolik dan kurang mengerti soal tradisi dalam Gereja Vatikan, saya tidak merasakan ada yang janggal dalam buku ini. Semua setting dan budaya terasa normal-normal saja. Porsi action dan suspense pas. Saya tidak dapat lepas dengan mudah ketika sudah mulai membaca buku ini. Karena berpindah-pindah sudut pandang, cerita ini terasa adil dan lengkap. Setiap karakter membawakan kisah ini dengan caranya masing-masing. Adanya Macri dan Glick lumayan seru untuk meredakan adrenalin yang meningkat ketika Langdon berusaha keras mencari petunjuk yang menyatakan letak altar ilmu pengetahuan.

Di buku, saya suka karakter Kohler dan Vittoria. Kohler yang digambarkan sebagai manusia yang kurang manusiawi justru paling manusiawi dibandingkan tokoh yang lain. Vittoria menggambarkan hubungan spesial ayah-anak dengan baik. Kisah-kisah masa kecilnya membuat saya merasakan kehangatan kasih ayah Vittoria. Caranya bertindak dan isi pikirannya memberi tahu saya bahwa dia sangat mencintai ayahnya.

Di buku, saya justru bingung dengan nama para Garda Swiss. Entah karena antara film dan buku karakter-karakter ini digambarkan jauh berbeda, entah karena karakternya kurang khas sehingga saya sering tertukar. Chartrand yang ada dalam benak saya adalah orang yang mudah terpesona oleh karisma seseorang dan keajaiban Tuhan. Namun Chartrand yang saya temukan di film adalah petugas yang suka merokok kemudian ditraktir rokok. Olivetti yang ada dalam benak saya adalah Richter dalam film, terus ternyata salah haha. Atau mereka memang dicampur karakternya entahlah. Yang jelas tindakan Kohler jadi tindakan Richter kalau di film.

Keduanya

Saya suka sekali dengan cara yang buat film memotong dan menyambung isi dari buku. Ketika saya menonton film saya tidak merasa ada bagian yang hilang. Namun ketika saya membaca buku saya merasa lengkap. Beda dengan The Da Vinci Code yang filmnya terasa lompat-lompat dan kurang meyakinkan karena agak kurang berdasar argumennya. Saya suka kedua versi Angels & Demons ini.

Omong-omong saya suka dengan momen ketika Kardinal Baggia diselamatkan oleh orang-orang di sekitar air mancur. Rasanya sisi kemanusiaan tersentuh gitu. Dan ini nggak ada di bukunya. Bravo lah filmnya haha
Read More

Tuesday, January 20, 2015

Meminjam Buku di Perpustakaan STEI

Ceritanya kemarin itu dosen Sistem Kendali meminta kami bawa textbook pada pertemuan hari Kamis. Berhubung tidak memiliki modal yang cukup, saya berniat cari pinjaman. Target adalah anak Teknik Tenaga Listrik karena mereka telah mengambil mata kuliah ini semester lalu. Sayangnya, saya ga nemu dan malah disarankan untuk pinjam ke perpustakaan fakultas.

Saya tahu letak perpustakaan fakultas, tapi belum pernah masuk ke sana. Hari ini itu pertama kali. Karena pertama kali, jadinya berniat cari kawan. Pas banget ketemu Fitri lagi nongkrong di sekre himpunan informatika. Saya minta tolong antar ke perpustakaan. Eh dia ga mau haha. Yasudah saya ke atas sendiri, perpustakaan ada di lantai 3 Labtek V. Eh pas naik tangga ketemu Vivi dan Swizya yang mau cari textbook juga. Cocok.

Ternyata Vivi udah pinjam kemarin dan dia yang kasih tau kami prosedurnya, mulai dari nyimpen tas di tempat penyimpanan tas, mendaftar jadi anggota, letak rak buku tentang kendali, dan stok tersisa dari textbook yang kami cari. Buku target sisa 2 buah yang edisi kedua dan 1 buah yang edisi keempat. Meski yang edisi keempat lebih memprihatinkan keadaannya, halaman 1 hingga 141 lepas dari jilidnya, saya pilih dia. Yang edisi kedua kertasnya sudah sangat kusam jadi berkesan horror haha. Jadilah hari ini saya punya kartu anggota perpustakaan fakultas dan meminjam buku di perpustakaan fakultas untuk pertama kali.
Horee


Read More